Apa Kriteria Pendidikan Yang Baik

Kriteria Pendidikan Yang Baik – Mayoritas masyarakat di Indonesia masih menganggap bahwa Kriteria pendidikan yang baik adalah menjadikan anak sebagai penyumbang nilai tinggi. Orang menganggap bahwa anak yang nilai matematikanya selalu 100 adalah anak cerdas, sedangkan anak yang ‘hanya’ berbakat menggambar atau berprestasi di bidang selain matematika dan sains adalah anak yang memiliki intelegensi rendah. Tentu pendapat ini salah, karena anak punya kecerdasan masing-masing.

Untuk itulah perlu dipertimbangkan bagaimana sekolah tersebut mengajarkan sistem pendidikan yang tidak hanya fokus pada pencapaian akademik, tetapi juga nilai kehidupan dalam hal bersosialisasi, menyelesaikan pendapat tanpa merugikan orang lain, dan juga kemampuan anak untuk lebih mandiri.  Disini, peran orang tua juga penting dalam membimbing anak dan tidak menyerahkan sepenuhnya kepada institusi pendidikan.

Apa Saja Pendidikan yang Baik untuk Seumur Hidup?

  1. Nilai Kehidupan

Tidak banyak orang tua yang sadar bahwa mengajarkan moral atau nilai kehidupan kepada anak justru lebih mudah ketika harus mengajari orang dewasa dengan hal yang sama.  Nilai kehidupan memang diajarkan di sekolah.  Tetapi tentunya pengajaran tentang nilai kehidupan akan lebih baik jika diajarkan juga oleh orang tua.

Perlu diingat pula bahwa anak bukanlah pendengar yang baik,  Tetapi, anak adalah peniru ulung. Perilaku dan tutur kata orang tua pasti ditiru oleh anak.  Nanti saat mereka sudah dewasa, mungkin mereka bisa mengalami perubahan. Tetapi perubahan tersebut tidaklah signifikan apabila orang tua  sudah memberikan pendidikan moral secara tepat dan konsisten. 

Hal ini tidak terlepas dari kedekatan anak dengan orang tua.  Benar bahwa anak yang sudah berusia remaja bisa terpengaruh teman. Tetapi, jika anak sudah nyaman berdiskusi dengan orang tua dan menganggap rumah mereka adalah tempat yang nyaman, mereka tidak akan mencari kenyamanan di tempat lain.

  • Pembelajaran Melalui Proyek (Project-Based Learning)

Saat ini, banyak sekolah sudah menerapkan pembelajaran berbasis proyek yang harus diselesaikan siswa. Namun, belum semua guru dapat menerapkannya. Yang terpenting adalah orang tua perlu memilih sekolah yang menerapkan kurikulum yang sesuai Kemendikbud yang sudah menerapkan metode ini.

Metode ini memungkinkan siswa untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan kunci, melalui pengembangan proyek yang sesuai dengan kondisi di sekitar mereka.  Dengan demikian, anak dapat berpikir kritis dan melakukan pemecahan masalah.

  • Pembelajaran Berkelompok

Sejak metode pendidikan dilakukan secara online karena pandemi, mungkin metode ini masih belum dapat dilakukan secara maksimal. Namun, di masa mendatang, menyelesaikan tugas secara berkelompok sangatlah efektif. Tentu dalam hal ini guru harus menentukan tugas setiap anak, sehingga tidak terjadi penumpukan tugas pada ketua kelompok.  Tujuan akhir selalu berorientasi pada kelompok dan akan tercapai jika masing-masing anggota berhasil melaksanakan tugasnya.

Di rumah, orang tua bisa mengaplikasikan metode ini. Bahkan orang tua juga dapat berbagi tugas dengan anak, sehingga tujuan akhirnya bertujuan dalam kepentingan seisi rumah. Jika orang tua sekedar menyuruh anak bersih-bersih rumah dan orang tua duduk-duduk dan asyik memegang HP, tentu anak akan kesal dan tidak lagi menganggap rumah sebagai tempat yang nyaman.

Perlu Kerjasama Solid

Pendidikan yang baik menuntut kerjasama solid antara guru, orang tua dan anak itu sendiri.  Guru adalah penanggung jawab di sekolah, tetapi bukan penanggung jawab keseluruhan pembentukan karakter anak. Dengan demikian, tidak akan terjadi kesalahpahaman antara ketiga pihak tersebut.  Anak pun dapat belajar dengan nyaman, tanpa harus merasa insecure karena selalu dilibatkan pada semua kegiatan.

Share via
Copy link
Powered by Social Snap